<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Penyampai Kabar Gembira dan Peringatan</title>
	<atom:link href="http://almaidany.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://almaidany.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 19:38:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Isra’ Mi&#8217;raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/07/22/isra%e2%80%99-m%e2%80%99iraj-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/07/22/isra%e2%80%99-m%e2%80%99iraj-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 16:51:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du…
Tidak diragukan lagi bahwa Isra’ - Mi’raj merupakan salah satu tanda dari Allah yang menunjukkan kebenaran Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan keagungan kedudukannya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Juga membuktikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><em><a href="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/07/batu.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-915" src="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/07/batu.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></em></p>
<p><em>Oleh: <a title="Klik untuk mengetahui biografi beliau." href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-abdul-aziz-bin-abdullah-bin-baz/" target="_blank">Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</a><br />
</em><br />
Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du…</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa Isra’ - Mi’raj merupakan salah satu tanda dari Allah yang menunjukkan kebenaran Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan keagungan kedudukannya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Juga membuktikan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Tinggi diatas semua makhluk-Nya.<span id="more-914"></span></p>
<p>Firman Allah Ta’ala (artinya): “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Al-Isra’ :1).</p>
<p>Diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah dimi’rajkan (dinaikkan) ke langit dan dibukakan bagi beliau pintu-pintunya, hingga sampailah beliau ke langit yang ke tujuh. Kemudian Allah memfirmankan kepada beliau apa yang dikehendaki-Nya dan mewajibkan kepadanya shalat lima waktu. Semula Allah mewajibkan shalat lima puluh waktu, tetapi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam masih terus kembali kepada-Nya meminta keringanan sehingga akhirnya dijadikan lima waktu saja. Namun, walaupun yang diwajibkan lima waktu saja tetapi pahalanya tetap seperti lima puluh waktu, karena kebaikkan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Kepada Allah-lah kita haturkan puji dan syukur atas segala nikmat-Nya.</p>
<p>Tentang malam saat terjadinya Isra’ Mi’raj itu tidak ada keterangan ketentuannya dalam hadits shahih. Semua riwayat mengenai ketentuannya bukan berasal dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, menurut para ahli ilmu hadits. Hanya Allah yang mengetahui segala hikmahnya bila manusia lupa akan malam tersebut.</p>
<p>Andaikata ada hadits shahih yang menetapkan malam Isra’ Mi’raj, tetaplah tidak boleh bagi kaum muslimin mengkhususkan malam itu dengan ibadah-ibadah tertentu. Maka mereka tidak boleh mengadakan acara peringatan apapun, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihin wa sallam dan para shahabat tidak pernah mengadakan suatu acara peringatan dan tidak pula mengkhususkan ibadah apapun pada malam tersebut.</p>
<p>Jika acara peringatan Isra’ - Mi’raj disyari’atkan, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya kepada umat, baik melalui ucapan maupun tindakan. Begitu pula, jika pernah dilakukan oleh beliau, pasti diketahui dan dikenal, dan tentunya disampaikan oleh para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum kepada kita. Karena mereka telah menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segala sesuatu yang dihajatkan umat. Mereka tidak pernah mengabaikan urusan sedikitpun dalam agama. Bahkan mereka adalah para pemuka dalam segala kebaikan. Maka, andaikanta acara peringatan malam Isra’ - Mi’raj ada tuntunannya, niscaya para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum akan lebih dahulu melaksanakannya.</p>
<p>Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tulus terhadap umat manusia, beliau telah menyampaikan risalah dan menjalankan amanat dengan sempurna. Oleh karena itu, andaikata mengagungkan dan memperingati malam Isra’ - Mi’raj termasuk ajaran agama Islam, tentu tidak akan dilupakan dan disembunyikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, karena hal itu tidak ada jelaslah bahwa memperingati dan mengagungkan malam tersebut bukan berasal dari ajaran Islam sama sekali. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan agamaNya bagi umat ini, mencukupkan nikmatNya kepada mereka, dan menolak siapa saja yang berani mengadakan bid’ah (perkara baru) dalam agama yang tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (artinya): “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu …”. (Al-Ma’idah : 3)</p>
<p>“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tetntulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih”. (Asy-Syura : 21)</p>
<p>Dalam hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memperingatkan kita agar waspada dan menjauhkan diri dari bid’ah, serta beliau menjelaskan bahwa bid’ah itu sesat. Hal itu dimaksudkan menjadi peringatan bagi umatnya agar mereka menjauhinya dan tidak mengerjakannya, karena bid’ah itu mengandung bahaya yang sangat besar. Antara lain, diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): “Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami, yang bukan merupakan ajarannya, maka akan ditolak”.</p>
<p>Dalam riwayat Muslim disebutkan (artinya): “Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu tertolak”.</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, katanya (artinya): “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati kami dengan nasehat yang amat menyentuh, hati menjadi bergetar dan air mata berlinang karenanya. Maka kami berkata kepada beliau : “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seakan-akan nasehat ini seperti nasehat orang yang akan berpisah, maka wasiatkanlah kepada kami”. Beliau pun bersabda : “Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta patuh dan ta’at. Walaupun orang yang memerintah kalian itu seorang hamba (budak). Karena, sesungguhnya barangsiapa di antara kalian masih hidup akan menjumpai banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian pada sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah hal-hal baru (dalam agama), karena setiap hal baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”.” (Hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).</p>
<p>Dan masih banyak hadits-hadits yang semakna dengan ini.</p>
<p>Para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum dan salaf shaleh juga telah memperingatkan kita agar waspada terhadap bid’ah serta menjauhinya. Hal itu, tiada lain, karena bid’ah merupakan tindakan menambahi agama dan syariat yang tidak diperkenankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani, dalam tindakan mereka menambahi agama dan mengadakan hal-hal baru yang tidak ada dasar perintahnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, berbuat bid’ah berarti menuduh agama Islam kurang lengkap dan tidak sempurna. Ini jelas merupakan kebatilan besar dan kemungkaran keji, serta bertentangan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla (artinya): “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu,…”. (Al-Maidah : 3).</p>
<p>Juga bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan kita dari perbuatan bid’ah dan agar menjauhinya.</p>
<p>Kami berharap semoga dalil-dalil yang telah kami sebutkan tadi cukup dan memuaskan bagi mereka yang mencari kebenaran dalam mengingkari bid’ah ini, yakni bid’ah peringatan malam Isra’ - Mi’raj, dan supaya kita sekalian waspada terhadapnya, karena sesungguhnya hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali.</p>
<p>Oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan saling menasehati terhadap sesama muslim dan menerangkan apa-apa yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka dalam agama serta mengharamkan penyembunyian ilmu, maka kami memandang perlu untuk mengingatkan saudara-saudara kami dari perbuatan bid’ah ini yang telah menyebar di berbagai belahan bumi, sehingga dikira sebagian orang sebagai ajaran dari agama.</p>
<p>Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon, semoga Dia berkenan memperbaiki keadaan kaum muslimin semuanya, memberikan kepada mereka pemahaman dalam agama, melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk berpegang teguh dengan kebenaran dan menetapinya, serta meninggalkan segala yang bertentangan dengannya. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemberi dan Berkuasa atas itu semua.</p>
<p>Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba dan Rasul-Nya Nabi Kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p>Dikutip dari terjemah tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz<br />
Dinukil dari Kitabnya At-Tahdziru Minal Bida’</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=471">http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=471</a></p>
<p>Kutipan dari: <a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/07/20/isra%e2%80%99-m%e2%80%99iraj-rasulullah-sholallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/">http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/07/20/isra%e2%80%99-m%e2%80%99iraj-rasulullah-sholallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/almaidany.wordpress.com/914/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/almaidany.wordpress.com/914/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almaidany.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almaidany.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almaidany.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almaidany.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almaidany.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almaidany.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almaidany.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almaidany.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almaidany.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almaidany.wordpress.com/914/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almaidany.wordpress.com&blog=1586189&post=914&subd=almaidany&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almaidany.wordpress.com/2008/07/22/isra%e2%80%99-m%e2%80%99iraj-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/almaidany-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abu ja'far al-maidany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/07/batu.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penghargaan Islam Terhadap Wanita</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/07/09/penghargaan-islam-terhadap-wanita/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/07/09/penghargaan-islam-terhadap-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 03:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=905</guid>
		<description><![CDATA[
بسم الله الرحمن الرحيم


Telah berulang-ulang kita singgung tentang penghargaan Islam terhadap kaum wanita. Namun masih saja ada permasalahan yang tertinggal, tak sempat diangkat karena keterbatasan yang ada. Karenanya tidak ada salahnya kita kembali berbicara tentang hal tersebut.
Beberapa bukti yang menunjukkan penghargaan terhadap wanita dalam Islam kita dapati dalam beberapa peristiwa di bawah ini:
1. Dikabulkannya jaminan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<p style="text-align:center;"><span class="fnu">بسم الله الرحمن الرحيم</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;"><span class="fnu"><span class="fnu"><a href="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/07/imgawards01.jpg"><img class="size-full wp-image-907 aligncenter" src="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/07/imgawards01.jpg?w=408&h=315" alt="" width="408" height="315" /></a></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu">Telah berulang-ulang kita singgung tentang penghargaan Islam terhadap kaum wanita. Namun masih saja ada permasalahan yang tertinggal, tak sempat diangkat karena keterbatasan yang ada. Karenanya tidak ada salahnya kita kembali berbicara tentang hal tersebut.<span id="more-905"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu">Beberapa bukti yang menunjukkan penghargaan terhadap wanita dalam Islam kita dapati dalam beberapa peristiwa di bawah ini:<br />
1. Dikabulkannya jaminan perlindungan yang diberikan seorang wanita<br />
Hal ini tampak dalam kisah Ummu Hani` bintu Abi Thalib radhiyallahu ‘anha ketika Fathu Makkah, saat ia memberikan perlindungan kepada mertuanya dan seorang lelaki dari kalangan kerabatnya, padahal dua orang ini telah diputuskan untuk dibunuh. Ummu Hani radhiyallahu ‘anha berkisah:<br />
ذَهَبْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ الْفَتْحِ، فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ. قاَلَتْ: فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: مَنْ هذِهِ؟ فَقُلْتُ: أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ. فَقَالَ: مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ. فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مُلْتَحِفًا فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ. فَلَمَّ انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، زَعَمَ ابْنُ أُمِّي أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً قَدْ أَجَرْتُهُ، فُلاَنَ ابْنَ هُبَيْرَةَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَدْ أََجَرْنَا مَنْ أََجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِىءٍ. قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ: ذَاكَ ضُحًى.<br />
“Aku pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun terjadinya Fathu Makkah. Aku dapati beliau sedang mandi dalam keadaan ditutupi kain oleh putri beliau Fathimah. Aku mengucapkan salam kepada beliau. “Siapa ini yang datang?” tanya beliau dari belakang kain yang menutupi beliau.<br />
“Saya Ummu Hani` bintu Abi Thalib,” jawabku.<br />
“Marhaban, Ummu` Hani!” sambut beliau.<br />
Selesai dari mandinya, beliau mengerjakan shalat sunnah 8 rakaat dalam keadaan berselimut1 dengan satu kain. Selesai dari shalatnya, aku berkata, “Wahai Rasulullah, anak ibuku2 mengaku akan membunuh seseorang yang telah aku berikan jaminan perlindungan, yaitu Fulan putra Hubairah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh kami memberikan perlindungan untuk orang yang engkau berikan perlindungan, wahai Ummu Hani.” Kata Ummu Hani, “Ketika itu waktu Dhuha.” (HR. Al-Bukhari no. 357 dan Muslim no. 1666)3 </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu">Begitu pula yang terjadi pada Zainab radhiyallahu ‘anha putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika suaminya yang belum berislam4, Abul ‘Ash ibnur Rabi’, hendak ditawan oleh kaum muslimin di Madinah bersama dengan tawanan-tawanan lainnya dan hartanya dijadikan sebagai rampasan perang5, si suami ini memohon jaminan keamanan dan perlindungan kepada Zainab. Zainab pun menjanjikan kebaikan dan menanti hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menunaikan shalat Shubuh bersama kaum muslimin. Kemudian Zainab berdiri di pintu rumahnya dekat masjid seraya berseru dengan suara yang tinggi, “Sungguh aku telah memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepada Abul ‘Ash ibnur Rabi’.” Mendengar seruan putrinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia! Apakah kalian mendengar apa yang telah aku dengar?”<br />
Mereka menjawab, “Iya.”<br />
Beliau lalu bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sebelumnya aku tidak mengetahui apa-apa hingga aku mendengar apa yang telah kalian dengar.” Kemudian beliau menyatakan, “Sungguh kami telah memberikan perlindungan kepada orang yang dilindungi oleh Zainab.”<br />
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah beliau, Zainab menyusul ayahnya dan memohon kepada beliau agar harta yang diambil dari Abul ‘Ash dikembalikan kepada Abul ‘Ash, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabulkan. Maka seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya tanpa berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah kepada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?” Mereka menjawab, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Setelahnya Abul ‘Ash menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku menyatakan masuk Islam.”<br />
Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah menuju Madinah, hingga bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengumpulkannya kembali dengan istrinya Zainab dengan pernikahan yang awal6. ( Siyar A’lamin Nubala` 1/333-334, Al-Ishabah 7/207-208 )</span></p>
<p style="text-align:justify;">2. Haram membunuh wanita dalam peperangan<br />
Bila pasukan muslimin berperang dengan musuhnya maka diharamkan membunuh wanita, anak-anak, dan laki-laki yang sudah tua, terkecuali bila mereka turut serta dalam peperangan di barisan lawan. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan:<br />
وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُوْلَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ. وَفِي رِوَايَةٍ: فَأَنْكَرَ<br />
“Didapatkan ada seorang wanita yang terbunuh dalam sebagian peperangan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak.” Dalam satu riwayat: maka beliau mengingkarinya. (HR. Al-Bukhari no. 3014 dan Muslim no. 4523)<br />
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata, “Ulama sepakat mengamalkan hadits ini dalam masalah tidak bolehnya membunuh wanita dan anak-anak bila mereka tidak turut berperang. Namun ulama berbeda pendapat bila mereka (wanita dan anak-anak ini) ikut berperang. Jumhur ulama secara keseluruhan berpendapat bila mereka ikut berperang maka mereka dibunuh.” ( Ikmalul Mu’lim bi Fawa`id Muslim, 6/48 )<br />
Hanzhalah Al-Katib berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami melewati seorang wanita yang terbunuh yang tengah dikerumuni oleh manusia. Mengetahui hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
مَا كَانَتْ هذِهِ تُقَاتِلُ فِيْمَنْ يُقَاتِلُ. ثُمَّ قَالَ لِرَجُلٍ: انْطَلِقْ إِلَى خَالِدٍ ابْنِ الْوَلِيْدِ فَقُلْ لَهُ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُكَ، يَقُوْلُ: لاَ تَقْتُلَنَّ ذُرِّيَّةً وَلاَ عَسِيْفًا<br />
“Wanita ini tidak turut berperang di antara orang-orang yang berperang.” Kemudian beliau berkata kepada seseorang, “Pergilah engkau menemui Khalid ibnul Walid7, katakan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanmu agar jangan sekali-kali engkau membunuh anak-anak dan pekerja/orang upahan.” (HR. Ibnu Majah no. 2842, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 701)</p>
<p style="text-align:justify;">3. Peringatan dari menyebarkan berita jelek berkenaan dengan seorang wanita muslimah yang menjaga kehormatannya.<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلاَ تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ<br />
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka yang menuduh itu sebanyak delapan puluh kali cambukan dan janganlah kalian menerima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 4)<br />
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hukuman 80 kali cambukan bagi orang yang menuduh seorang muslimah dengan tuduhan yang keji, sementara ia tidak bisa mendatangkan empat orang saksi. Tidak cukup sampai di situ. Orang tersebut tidak boleh lagi diterima persaksiannya selama-lamanya, kemudian ia disifati dengan kefasikan.<br />
Tidak cukup sampai di situ hukuman yang diterima. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memberikan ancaman yang lebih keras dalam firman-Nya:<br />
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ. يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir berbuat keji lagi beriman dengan tuduhan zina, mereka akan terkena laknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (An-Nur: 23-24)<br />
Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha dituduh berzina oleh orang-orang munafik, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-ayat-Nya yang panjang dari atas langit ketujuh, yang terus dibaca sampai hari ini, untuk memberikan pembelaan kepada istri Nabi-Nya yang mulia, seorang wanita muslimah yang menjaga kehormatan dirinya.<br />
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لاَ تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ اْلإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ. لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ. لَوْلاَ جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ. وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ. إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ. يَعِظُكُمَ اللهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. وَيُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ. وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian bahkan ia adalah baik (akibatnya) bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang mukmin dan mukminah tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri dan mengapa mereka tidak berkata, ‘Ini adalah sebuah berita bohong yang nyata.’ Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong tersebut? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itu di sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat, niscaya kalian telah ditimpa azab yang besar karena pembicaraan kalian tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikitpun dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah ucapan itu besar. Dan mengapa kalian tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan hal ini. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah dusta yang besar.” Allah memperingatkan kalian agar jangan kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kalian memang orang-orang yang beriman dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memiliki hikmah. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan beroleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui. Dan sekiranya bukan karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya atas kalian semua dan sungguh Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, niscaya kalian akan ditimpa azab yang besar.” (An-Nur: 11-20)<br />
Ini adalah sepuluh ayat yang kesemuanya turun berkenaan dengan diri Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, sebagai pembelaan terhadap kehormatan dan kesucian dirinya dari ucapan yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka dan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cemburu. Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat-ayat ini sebagai pembelaan terhadap kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/379)</p>
<p style="text-align:justify;">4. Wahyu turun menjawab pengaduan seorang wanita<br />
Di antara wahyu yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang berisi jawaban terhadap pengaduan wanita. Bahkan turun surat yang khusus berbicara tentang pengaduan si wanita yang dinamakan surat Al-Mujadilah. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan:<br />
تَبَارَكَ الَّذِي أَوْعَى سَمْعُهُ كُلَّ شَيْءٍ، إِنِّي لَأَسْمَعُ كَلاَمَ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبَةَ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُهُ وَهِيَ تَشْتَكِي زَوْجَهَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهِيَ تَقُوْلُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَكَلَ شَبَابِي وَنَثَرْتُ لَهُ بَطْنِي، حَتَّى إِذَا كَبِرَتْ سِنِّي وَانْقَطَعَ وَلَدِي، ظَاهَرَ مِنِّي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُوا إِلَيْكَ. قَالَتْ: فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى نَزَلَ جِبْرِيْلُ بِهَؤُلَاءِ الْآيَاتِ: قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ<br />
“Maha Suci Zat yang pendengarannya mencapai segala sesuatu. Sungguh aku mendengar ucapannya Khaulah bintu Tsa’labah namun samar (tidak terdengar) bagiku sebagiannya. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, dia telah menghabiskan masa mudaku dan aku telah melahirkan banyak anak untuknya, hingga ketika usiaku telah tua dan aku tidak dapat melahirkan lagi, ia menzhiharku8. Ya Allah, aku mengadukan perkaraku kepadamu.’ Terus menerus Khaulah mengadu hingga datang Jibril membawa ayat ini:<br />
قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ<br />
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan halnya kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab di antara kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Mujadilah: 1) [HR. Ibnu Majah no. 2063, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dengan syawahid-nya, lihat Irwa`ul Ghalil 7/175]9<br />
Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu dalam tafsirnya terhadap ayat pertama surah Al-Mujadilah ini menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan diri Khaulah bintu Tsa’labah, istri dari Aus ibnush Shamit. Khaulah memiliki tubuh yang bagus sementara suaminya agak sedikit mengalami gangguan jiwa.<br />
Suatu ketika suaminya “menginginkannya” namun Khaulah menolak. Suaminya marah dengan berkata, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Namun kemudian suaminya menyesali apa yang diucapkannya, padahal zhihar dan ila` termasuk talak orang-orang jahiliah. Maka Aus berkata, “Tidaklah aku meyakini kecuali engkau telah haram bagiku.” Khaulah berkata, “Demi Allah, itu bukan talak.”<br />
Khaulah pun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perkaranya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa ia telah haram bagi suaminya, Khaulah tidak menerimanya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Zat yang menurunkan Al-Qur`an kepadamu, ia tidak menyebut talak. Ia adalah ayah dari anakku dan ia adalah orang yang paling kucintai.” Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan ia haram bagi suaminya.<br />
Maka Khaulah mengadukan perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terus demikian. Ia menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, aku mengadu kepadamu. Ya Allah, turunkanlah wahyu kepada Nabi-Mu yang memberikan kelapangan kepadaku.” (Ma’alimut Tanzil, 4/277)<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan ayat-ayat-Nya menjawab pengaduan wanita yang shalihah ini. Semua ini jelas merupakan bukti kepedulian syariat yang mulia ini terhadap kaum wanita.<br />
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">1 Dengan menyilangkan dua ujung kain di atas kedua pundak. (Al-Minhaj, 5/239)<br />
Lihat pembahasan hal ini dalam rubrik Seputar Hukum Islam, dalam pembahasan Syarat-Syarat Shalat, sub judul Menutup Aurat.<br />
2 Yaitu ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dalam satu riwayat disebutkan, “anak ayahku”, dan ini yang shahih secara makna, karena Ali adalah saudara kandung Ummu Hani` (Fathul Bari, 1/609).<br />
Ummu Hani menyebutkan “anak ibuku” untuk menekankan hubungan kemahraman, kedekatan dan kebersamaan mereka dalam satu rahim. Di samping juga karena seorang anak lebih banyak bersama ibunya. Ini sesuai dengan sebutan Harun q kepada Musa q dalam surah Thaha ayat 94:<br />
قَالَ يَبْنَؤُمَّ لاَ تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي<br />
“Wahai anak ibuku, janganlah engkau menarik jenggotku.” (Al-Minhaj, 5/239)<br />
3 Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, “Sebagian pengikut mazhab kami dan jumhur ulama berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan diterimanya jaminan keamanan dari seorang wanita.” (Al-Minhaj, 5/239)<br />
4 Dengan keislaman Zainab dan tetapnya suaminya dalam kekufuran, keduanya pun harus dipisahkan karena Zainab tidak halal bagi Abul ‘Ash yang masih kafir.<br />
5 Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan 170 orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri. Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui Zainab untuk meminta perlindungan.<br />
6 Tanpa memperbarui pernikahan mereka.<br />
7 Karena wanita itu terbunuh oleh pasukan terdepan yang dipimpin oleh Khalid ibnul Walid radhiyallahu ‘anhu.<br />
8 Dengan mengatakan, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, suaminya ingin mengharamkan dirinya sebagaimana keharaman ibunya baginya.<br />
9 Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya secara mu’allaq 
</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=693">http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=693</a> </p>
<p style="text-align:center;">Oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/almaidany.wordpress.com/905/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/almaidany.wordpress.com/905/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almaidany.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almaidany.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almaidany.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almaidany.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almaidany.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almaidany.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almaidany.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almaidany.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almaidany.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almaidany.wordpress.com/905/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almaidany.wordpress.com&blog=1586189&post=905&subd=almaidany&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almaidany.wordpress.com/2008/07/09/penghargaan-islam-terhadap-wanita/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/almaidany-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abu ja'far al-maidany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/07/imgawards01.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Ulama Sunnah tentang Demonstrasi dan Mogok Makan</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/26/fatwa-ulama-sunnah-tentang-demonstrasi-dan-mogok-makan/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/26/fatwa-ulama-sunnah-tentang-demonstrasi-dan-mogok-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 01:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[
بسم الله الرحمن الرحيم

Dikumpulkan oleh Tim Buletin Jum’at Al-Atsariyyah

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah menetapkan bahwa seseorang tidak boleh memberontak kepada pemerintah, membangkang, durhaka, menyebarkan aibnya, baik lewat majalah, mimbar, pertemuan (majelis), dan lainnya, karena hal itu akan menimbulkan kerusakan; menyebabkan masyarakat tidak lagi segan, hormat, dan cinta kepada pimpinannya.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<p style="text-align:center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
</blockquote>
<p class="snap_preview" style="text-align:center;"><em>Dikumpulkan oleh Tim Buletin Jum’at Al-Atsariyyah</em></p>
<p class="snap_preview" style="text-align:center;"><em><a href="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/demonstrasi.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-897" src="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/demonstrasi.jpg?w=300&h=94" alt="Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً“Barang siapa yang melihat sesuatu ia benci dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar atasnya, karena barang siapa yang meninggalkan jama’ah dengan sejengkal, lalu ia mati, kecuali ia akan mati seperti matinya orang jahiliyyah”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (13/5), Muslim dalam Shohih-nya (3/1477), Ahmad dalam Al-Musnad (1/275), dan lainnya]" width="300" height="94" /></a></em></p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah menetapkan bahwa seseorang tidak boleh memberontak kepada pemerintah, membangkang, durhaka, menyebarkan aibnya, baik lewat majalah, mimbar, pertemuan (majelis), dan lainnya, karena hal itu akan menimbulkan kerusakan; menyebabkan masyarakat tidak lagi segan, hormat, dan cinta kepada pimpinannya.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">“Barang siapa yang melihat sesuatu ia benci dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar atasnya, karena barang siapa yang meninggalkan jama’ah dengan sejengkal, lalu ia mati, kecuali ia akan mati seperti matinya orang jahiliyyah”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (13/5), Muslim dalam Shohih-nya (3/1477), Ahmad dalam Al-Musnad (1/275), dan lainnya]</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Hadits ini menjelaskan bahwa seorang tidak boleh durhaka kepada pemerintah, walaupun dalam perkara yang dianggap “sepele”, karena yang sepele kadang jadi besar, parah, dan rawan. Berangkat dari hadits ini, para ulama kita mengharamkan demonstrasi, karena demo merupakan salah satu bentuk kedurhakaan, dan pembangkangan kepada pemerintah yang dilarang keras oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- . Karena banyaknya yang menyangka demo adalah perkara boleh, maka kami turunkan berikut ini fatwa-fatwa para ulama’ kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menjelaskan haramnya demonstrasi:</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Fatwa Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz Ibn Baz-rahimahullah Ta’ala-</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Beliau –rahimahullah– berkata,</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">“Cara yang bagus merupakan sarana terbesar diterimanya kebenaran. Sedang cara yang keliru dan kasar merupakan sarana yang paling berbahaya ditolaknya dan tidak diterimanya kebenaran, atau bisa mengobarkan kekacauan, kezhaliman, permusuhan, dan saling menyerang.<span id="more-896"></span> Dikategorikan dalam permasalahan ini apa yang dikerjakan oleh sebagian orang berupa demonstrasi yang menyebabkan keburukan yang banyak bagi para da’i. Maka berkonvoi di jalan-jalan dan berteriak bukanlah merupakan jalan untuk memperbaiki dan dakwah. Jadi, cara yang benar adalah dengan menziarahi (pemerintah), menyuratinya dengan cara yang bagus. Nasihatilah para pemimpin, pemerintah, dan kepala suku dengan metode seperti ini. Bukan dengan cara kekerasan dan demonstrasi.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Nabi –Shollallahu alaihi wasallam- ketika tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau tidaklah pernah menggunakan demonstrasi dan berkonvoi, serta tidak mengancam orang lain untuk menghancurkan harta-bendanya, dan membunuh mereka. Tak ragu lagi, cara ini akan membahayakan dakwah dan para da’i, akan menghalangi tersebarnya dakwah, membuat para pemimpin teras memusuhinya dan melawannya dengan segala yang mungkin bisa dilakukannya. Mereka (para pelaku demo) menginginkan kebaikan dengan cara seperti tersebut, akan tetapi malah terjadi yang sebaliknya.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Maka hendaknya seorang da’I ilallah menempuh jalannya para rasul dan pengikutnya, sekalipun memakan waktu yang panjang. Itu lebih utama dibandingkan perbuatan yang membahayakan dan mempersempit (ruang gerak) dakwah, atau dihabisi. Walaa haula walaa quwwata illa billah”. [Lihat Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi ke-38, (hal.310)]</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Beliau -rahimahullah- pernah ditanya,<br />
“Apakah demonstrasi yang dilakukan oleh kaum pria dan wanita melawan pemerintah bisa dianggap termasuk sarana dakwah? Apakah orang yang meninggal di dalamnya dianggap mati syahid?”</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Maka beliau –rahimahullah- memberikan jawaban:<br />
“Saya tidak memandang demonstrasi yang dilakukan para kaum hawa dan juga oleh kaum Adam sebagai suatu solusi . Akan tetapi itu merupakan sebab timbulnya fitnah (baca: musibah), keburukan, sebab dizholiminya sebagian orang, dan melampaui batas atas sebagian orang tanpa haq. Akan tetapi, cara-cara yang syar’i (menasihati pemerintah) adalah dengan cara menyurat, menasihatinya, dan mendakwahinya menuju kepada suatu kebaikan dengan cara damai. Demikianlah yang ditempuh paara ulama’. Demikianlah para sahabat Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- dan para pengikut mereka dalam kebaikan.
</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Cara mereka menasihati dengan menyurat dan berbicara langsung dengan orang yang bersalah, pemerintah, dan penguasa. Dengan cara menghubunginya, menasihatinya, dan menyuratinya, tanpa membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar dan tempat-tempat lainnya (dengan berteriak): “Pemerintah Fulan melakukan begini dan begini, lalu hasilnya begini dan begini !! ”, Wallahul Musta’an”. [Simak Kaset : Muqtathofaat min Aqwaal Al-Ulama’]</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Demonstrasi bukanlah uslub (cara) berdakwah yang benar. Bukan seperti yang dikatakan oleh seorang da’i hizbi, Safar Al-Hawaly. Dia berkata dalam kasetnya yang berjudul “Syarah Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah” (no.185), ”Sesungguhnya demonstrasi yang dilakukan oleh kaum wanita merupakan salah satu di antara uslub (cara) berdakwah dan memberikan pengaruh”.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Senada dengan ini, A’idh Al-Qorny berkata, “Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah keluar di Al-Jaza’ir dalam satu hari 700.000 wanita muslimah yang berhijab menuntut ditegakkannya syari’at Allah”.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Adapun Salman bin Fahd Al-Audah, maka tak jauh beda dengan kedua temannya tadi. Dia berkata dalam kaset “Lin Nisaa’ Faqoth”, ”Sungguh kita telah mendengar di beberapa negara lain suatu berita yang menggembirakan adanya kembali (kesadaran) yang jujur-khususnya di kalangan pemudi- kepada Allah. Setiap orang dengar adanya demonstrasi lantang di al-Jaza’ir. Sedangkan pemimpinnya adalah sekelompok wanita. Jumlah mereka lebih dari ratusan ribu orang”.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Syaikh Abdul Malik Al-Jaza’iry - Hafizhahullah - berkata dalam mengkritik kekeliruan tiga orang di atas,</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">“Demi Allah, Sesungguhnya urusan mereka ini benar-benar aneh! Tidaklah pernah dibayangkan kalau Jazirah Arab –setelah adanya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab- akan melahirkan orang-orang semacam mereka!? Apakah setelah kehidupan yang dihiasi dengan menjaga kehormatan yang dijaga oleh kaum muslimin Jazirah, akan datang Safar, Salman, dan Al-Qorny ke hadapan para wanita untuk mengeluarkan mereka dari rumah kemuliaan mereka dengan memperbanyak jumlah dan kekuatan dengan para wanita!? Safar menjelaskan pengaruh yang dalam ketika keluarnya para wanita tsb untuk berdemo, sedang Al-Qorny menguatkannya dengan sumpah!! Sedang Salman membangkitkan semangat mereka agar tetap bersabar menghadapi tank-tank. Duh, Alangkah anehnya agamanya!”. [Lihat Madarik An-Nazhor (hal.419-420), cet. Dar Sabiil Al-Mu’minin.]</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Apa yang dinyatakan oleh tiga orang ini jelas salah, karena menasihati pemerintah adalah dengan secara rahasia dan tersembunyi seperti menziarahinya, menyuratinya, menelponnya, atau menghubunginya lewat temannya,dan semacamnya, sebab inilah merupakan prinsip dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- bersabda:</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُمَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">“Barang siapa yang ingin menasihati seorang penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya, dan berduan dengannya. Jika ia terima, maka itulah (yang diharap). Jika tidak, maka ia telah melaksanakan keawjiban atas dirinya ”.[HR.Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096). Syaikh Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam Zhilal Al-Jannah (hal.514), “Sanadnya shohih”] .</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Fauzy bin Abdillah Al-Atsary -hafizhahullah- berkata,<br />
”Hadits ini menunjukkan bahwa nasihat kepada pemerintah dengan cara rahasia, bukan dengan cara terang-terangan, dan bukan pula membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar, pesta-pesta, masjid-masjid, koran-koran, majalah dan lainnya sebagai suatu nasihat”. [Lihat: Al-Ward Al-Maqthuf (hal.66)]
</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">* Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin –rahimahullah-</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Beliau –rahimahullah Ta’ala - ditanya:<br />
“Apakah Demonstrasi bisa dianggap sarana dakwah yang disyari’atkan?”</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Beliau menjawab,<br />
“Alhamdu lillahi Rabbil alamin wa shollallahu ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumiddin. Amma ba’du: Sesungguhnya demonstrasi merupakan perkara baru, tidaklah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaihi wasallam-, dan para sahabatnya –radhiyallahu anhum-. Kemudian di dalamnya terdapat kekacauan dan huru-hara yang menjadikannya perkara terlarang, dimana didalamnya terjadi pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu, dan lainnya. Juga terjadi padanya ikhtilath (campur-baur) antara pria dan wanita, orang tua dan anak muda, dan sejenisnya di antara kerusakan dan kemungkaran.
</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Adapun masalah tekanan atas pemerintah. Jika pemerintahnya muslim, maka cukuplah bagi mereka sebagai penasihat adalah Kitabullah Ta’ala, dan Sunnah Rasul –Shollallahu alaihi wasallam-. Ini adalah sesuatu terbaik disodorkan kepada seorang muslim. Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka tak akan memperhatikan para peserta demonstrasi. Pemerintah tersebut akan “bermanis muka” di depan mereka, sementara itu hanyalah merupakan kejelekan yang tersembunyi di batin mereka. Karenanya, kami memandang bahwa demonstrasi merupakan perkara mungkar !!</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Adapun alasan mereka: “Demo inikan aman-aman saja”. Memang terkadang aman-aman saja di awalnya atau pertama kalinya, lalu kemudian berubah menjadikan perusakan. Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mau mengikuti jalannya Salaf. Karena Allah –Subhanahu wa Ta’ala- telah memuji para sahabat Muhajirin dan Anshor, serta juga orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan”. [Lihat Al-Jawab Al-Abhar(hal.75) karya Fu’ad Siroj]</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Fatwa Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun-rahimahullah-</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun -rahimahullah- berkata,</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">“Jadi seorang da’I, orang yang memerintahkan kebaikan, dan melarang dari kemungkaran, wajiblah bagi dirinya untuk menghiasi dirinya dengan kesabaran, mengharapkan pahala dan ganjaran (di sisi Allah), menanggung segala sesuatu yang ia dengarkan atau terkadang ia dicemooh dalam dakwahnya. Adapun seorang da’I menempuh cara kekerasan, atau dia -wal’iyadzu billah- menempuh cara dengan menyakiti manusia, mengganggu orang, atau menempuh cara perselisihan dan pertengkaran, dan memecah belah kesatuan.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Ini merupakan perkara-perkara setan. Dia adalah prinsip dakwah Khawarij. Inilah prinsip dakwah Khawarij !! Mereka itulah yang mengingkari kemungkaran dengan senjata, mengingkari sesuatu perkara-perkara yang mereka anggap tidak boleh dan menyelisihi keyakinan mereka dengan cara perang, menumpahkan darah, mengkafirkan orang, dan beberapa perkara lain. Maka bedakanlah antara dakwah para sahabat Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- dan Salafush Sholeh dengan dakwah Khawarij dan orang yang menempuh manhaj (jalan hidup) mereka, dan menjalani jalan mereka.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Dakwahnya para sahabat dengan cara hikmah, nasehat, menjelaskan kebenaran, dengan penuh kesabaran, dengan berhias kesabaran, dan mencari pahala dan ganjaran. Sedangkan dakwah Khawarij dengan cara membunuh manusia, menumpahkan darah mereka, mengkafirkan mereka, memecah-belah kesatuan, dan merobak-robek barisan kaum muslimin. Ini adalah perbuatan-perbuatan keji dan bid’ah. Sepantasnya orang-orang yang mengajak kepada perkara-perkara seperti ini dijauhkan dan dijauhi, diburuk-sangkai. Mereka itu telah memecah-belah kesatuan kaum muslimin. Padahal Persatuan itu merupakan rahmat,sedangkan perpecahan merupakan sengsara dan adzab-wal’iyaadzu billah-.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Andai suatu penduduk negara di atas kebaikan, bersatu di atas satu kata, niscaya mereka akan memiliki kharisma dan wibawa. Akan tetapi penduduk negara kita sekarang sudah berkelompok-kelompok dan terkotak-kotak. Mereka telah sobek, berselisih, musuh dari kalangan mereka masuk ke tengah-tengah mereka, dari sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Ini merupakan cara bid’ah, dan keji. Merupakan jalan seperti yang telah berlalu keterangannya, datang dari orang-orang yang mau memecah-belah kesatuan, dan orang-orang yang telah membunuh Amirul Mukminin Ali-radhiyallahu anhu- dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan sahabat, peserta bai’at Ridhwan. Mereka telah membunuh beliau sedang mereka menginginkan “kebaikan”!! Sedang mereka itu adalah pemimpin kerusakan, pemimpin bid’ah,dan pemimpin perpecahan. Mereka itulah yang memecah-belah persatuan kaum muslimin, dan melemahkan barisan kaum muslimin.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Demikian juga sampai orang-orang yang berpendapat bolehnya, mengadopsinya, dan menganggapnya baik. Maka orang seperti ini jelek aqidahnya, dan harus dijauhi.Aku tahu-wa’iyaadzu billah- bahwa ada seorang yang disiapkan untuk membahayakan ummatnya dan teman-teman majelisnya, serta orang-orang yang ada disekitarnya. Nasihat yang haq, hendaknya seorang muslim menjadi seorang bekerja, membangun, mengajak kepada kebaikan, dan mencari kebaikan sebenar-benarnya. Dia harus mengucapkan kebenaran, berdakwah dengan cara yang benar dan lembut, berbaik sangka terhadap saudaranya, serta mengetahui bahwa kesempurnaan merupakan sesuatu yang sulit diraih, bahwasanya yang ma’shum adalah Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- , dan andaikan para pemerintah tersebut hilang/pergi, maka tak akan datang orang yang lebih bagus dibandingkan mereka.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Andaikan semua orang yang ada hilang/pergi-sama saja diantara mereka ada pemerintah, penanggung jawab, atau para penuntut, atau rakyat. Andaikan ini semuanya pergi/hilang-rakyat negara mana saja-, niscaya akan datang pemimpin yang lebih jelek darinya !! Karena tak akan datang suatu masa kecuali yang berikutnya lebih buruk.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Jadi, orang yang menginginkan agar orang sampai pada derajat kesempurnaan, atau menjadi orang-orang yang ma’shum dari segala kesalahan dan kejelekan. Orang (yang berpemikiran) macam ini adalah orang sesat. Mereka ini adalah orang-orang Khawarij. Mereka inilah yang memecah-belah persatuan manusia dan menyakiti mereka. Ini merupakan tujuan orang-orang yang memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan berbagai bid’ah dari kalangan orang Rofidhoh, Khawarij, Mu’tazilah, dan seluruh jenis pelaku kejelekan dan bid’ah”. [Lihat Majallah Safinah An-Najaah , edisi 2, Januari 1997 M.]</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Inilah beberapa fatwa ulama’ besar di zaman ini. Semuanya sepakat mengharamkan demonstrasi, karena menimbulkan kerusakan dalam segala lini kehidupan, secara langsung atau tidak. Fakta yang ada di lapangan telah membuktikan bahwa demo menyebabkan banyak kerusakan.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Intinya, demo adalah haram dalam Islam, baik demonya dalam bentuk damai tak menimbulkan kerusuhan saat demo, apalagi yang disertai kekasaran, dan sesuatu yang memancing emosi, serta merendahkan wibawa pemerintah.</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 26 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p class="snap_preview" style="text-align:justify;">(Disalin dari http://almakassari.com/?p=166 untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com)</p>
<h3 class="snap_preview" style="text-align:justify;"><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong>Baca artikel terkait:</strong></h3>
<div class="snap_preview">
<ul style="text-align:justify;">
<li>
<h4><a title="Tautan Tetap ke Cinta Tanah Air termasuk ke dalam Iman?" rel="bookmark" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/06/05/cinta-tanah-air-termasuk-ke-dalam-iman/"><span style="color:#265e15;">Cinta Tanah Air termasuk ke dalam Iman?</span></a></h4>
</li>
<li>
<h4><a title="Tautan Tetap ke Janganlah Panggil Saudaramu Kafir!" rel="bookmark" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/06/04/janganlah-panggil-saudaramu-kafir/"><span style="color:#265e15;">Janganlah Panggil Saudaramu Kafir!</span></a></h4>
</li>
<li>
<h4><a title="Tautan Tetap ke Menggugat Demokrasi - Sistem Demokrasi Selaras Dengan Islam?" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-sistem-demokrasi-selaras-dengan-islam/"><span style="color:#265e15;">Menggugat Demokrasi - Sistem Demokrasi Selaras Dengan Islam?</span></a></h4>
</li>
<li>
<h4 style="text-align:justify;"><a title="Tautan Tetap ke Menggugat Demokrasi - Apakah Demokrasi dan Pemilu Sama Dengan Musyawarah Dalam Islam?" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-apakah-demokrasi-dan-pemilu-sama-dengan-musyawarah-dalam-islam/"><span style="color:#265e15;">Menggugat Demokrasi - Apakah Demokrasi dan Pemilu Sama Dengan Musyawarah Dalam Islam?</span></a></h4>
</li>
</ul>
</div>
<h4 style="text-align:center;"><a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/" target="_blank"><img src="http://ulamasunnah.files.wordpress.com/2008/06/bannerdemo.gif?w=180&amp;h=180&h=180" border="0" alt="Apakah Demokrasi dan Pemilu adalah Solusi? Temukan Jawabannya di sini" width="180" height="180" /></a></h4>
<p style="text-align:left;">Sumber kutipan: <a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/25/fatwa-ulama-sunnah-tentang-demonstrasi-dan-mogok-makan/">http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/25/fatwa-ulama-sunnah-tentang-demonstrasi-dan-mogok-makan/</a></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/almaidany.wordpress.com/896/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/almaidany.wordpress.com/896/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almaidany.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almaidany.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almaidany.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almaidany.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almaidany.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almaidany.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almaidany.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almaidany.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almaidany.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almaidany.wordpress.com/896/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almaidany.wordpress.com&blog=1586189&post=896&subd=almaidany&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/26/fatwa-ulama-sunnah-tentang-demonstrasi-dan-mogok-makan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/almaidany-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abu ja'far al-maidany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/demonstrasi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً“Barang siapa yang melihat sesuatu ia benci dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar atasnya, karena barang siapa yang meninggalkan jama’ah dengan sejengkal, lalu ia mati, kecuali ia akan mati seperti matinya orang jahiliyyah”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (13/5), Muslim dalam Shohih-nya (3/1477), Ahmad dalam Al-Musnad (1/275), dan lainnya]</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ulamasunnah.files.wordpress.com/2008/06/bannerdemo.gif?w=180&#38;h=180" medium="image">
			<media:title type="html">Apakah Demokrasi dan Pemilu adalah Solusi? Temukan Jawabannya di sini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/25/kondisi-masyarakat-sebelum-diutusnya-nabi-muhammad-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/25/kondisi-masyarakat-sebelum-diutusnya-nabi-muhammad-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 15:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=890</guid>
		<description><![CDATA[
بسم الله الرحمن الرحيم

 

Ditulis oleh: Ustadz Qomar Suaidi
Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lain.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tiadanya para Rasul. Vakumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<h2 class="widgettitle" style="text-align:center;">بسم الله الرحمن الرحيم</h2>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span class="atas"> </span></em><a href="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/gua_hira.jpg"></a><em></em></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/gua_hira.jpg?w=261&h=300" alt="Gua Hira, tempat turunnya Wahyu Alloh yang pertama." width="261" height="300" /></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span class="atas">Ditulis oleh: Ustadz Qomar Suaidi</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span class="fnu">Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tiadanya para Rasul. Vakumnya masa itu dari para pembawa risalah dikarenakan Allah murka kepada penduduk bumi baik orang Arab dan selainnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mereka telah meninggal. Dalam sebuah riwayat, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :<br />
<em>Sesungguhnya Allah melihat kapada penduduk bumi. Lalu murka kepada mereka, Arab atau ajamnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab.</em> (HR Muslim)<span id="more-890"></span></p>
<p><span class="fnu"> Saat itu, memang hanya satu di antara dua orang ahlul kitab yang berpegang dengan kitab yang sudah dirubah dan/atau dihapus, atau dengan agama yang punah, baik bangsa Arab atau lainnya. Sebagiannya tidak diketahui dan sebagian yang lain sudah ditinggalkan. Akibatnya, seorang yang umi (tidak bisa baca tulis) hanya bisa bersemangat beribadah namun dengan apa yang ia anggap baik dan disangka memberi manfaat baik berupa bintang, berhala, kubur, benda keramat, atau yang lainnya.</span>
</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia saat itu benar-benar dalam kebodohan yang sangat akan ucapan-ucapan yang mereka sangka baik padahal bukan, serta amalan yang disangka baik padahal rusak. Paling mahirnya mereka adalah yang mendapat ilmu dari warisan para Nabi terdahulu namun telah samar bagi mereka antara haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan meski kebanyakannnya mengamalkan bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya. (Iqtidha’ Sirathal Mustaqim 1/74-75)</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah gambaran ringkas keadaan manusia yang sangat parah saat itu, khususnya di kota Makkah dan sekitarnya. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay Al-Khuza’iy. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai suatu saat, Amr pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam dikenal sebagai tempat turunnya kitab-kitab Samawi (kitab-kitab dari langit).</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika pulang, Amr membawa oleh-oleh berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia kemudian meletakkannya di dalam Ka’bah dan menyeru penduduk Makkah untuk menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dengan beribadah kepadanya. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar. (Mukhtasor Sirah Rasul hal. 23 &amp; 73).</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itulah, berhala tersebar di setiap kabilah. Di samping Hubal yang menjadi berhala terbesar di Ka’bah dan sekitarnya dan juga menjadi sanjungan orang-orang Makkah, terdapat pula berhala Manat di antara Makkah dan Madinah. Manat merupakan sesembahan orang-orang Aus dan Khazraj dan qabilah dari Madinah. Juga ada Latta di Thaif dan Uzza. Ketiga berhala ini merupakan yang terbesar dari yang ada. (lihat Mukhtasor Siroh Rasul 75-76 Rahiqul Makhtar :35).</p>
<p style="text-align:justify;">Akibatnya, peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Apalagi, kesyirikan tersebut disangka masyarakat waktu itu sebagai agama Ibrahim ‘alaihis salam. Padahal, tradisi menyembah berhala-berhala itu kebanyakannya adalah hasil rekayasa Amr bin Luhay yang kemudian dianggap bid’ah hasanah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang perbuatan Amr ini: “Saya melihat Amr bin Amir (bin Luhay) Al-Khuza’iy menyeret ususnya di neraka. Dia yang pertama kali melukai unta (sebagai persembahan kepada berhala dan yang pertama mengubah agama Ibrahim ‘alaihissalam)” (HR Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara tradisi syirik masyarakat waktu itu adalah menginap di sekitar berhala itu, memohonnya, mencari berkah darinya karena diyakini dapat memberi manfaat, thawaf, tunduk dan sujud kepadanya, menghidangkan sembelihan dan sesaji kepadanya, dan lain-lain. Mereka melakukan hal itu karena meyakini bahwa itu akan mendekatkan kepada Allah dan memberi syafaat sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Qur’an. Mereka mengatakan:<br />
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)<br />
“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kenmudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat. Dan mereka berkata, ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’”. (Yunus: 1 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' />
</p>
<p style="text-align:justify;">Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan 3 anak panah. Caranya dengan menuliskan “ya”, “tidak” dan dikosongkan pada ketiga anak panah itu. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi dan jika “tidak”, tidak jadi pergi. Jika yang kosong maka diundi lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka juga mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun, serta menggantungkan nasib melalui burung-burung. Ketika ingin melekukan sesuatu, mereka mengusir burung. Jika terbang ke arah kanan berarti terus, jika ke arah kiri berarti harus diurungkan. Selain itu, mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu. Misalnya karena pesimis dengan bulan safar, mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tidak mengijinkan orang luar Makkah untuk haji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka melakukan thawaf dengan telanjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-laki. Jika perempuan itu tidak mau, maka laki-laki itu akan memaksa wanita itu untuk menikah kecuali dengan siapa yang diizinkan olehnya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasullallah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=15</em></p>
<p style="text-align:left;">Kutipan dari: http://darussunnah.or.id/2008/06/22/kondisi-masyarakat-sebelum-diutusnya-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-salam/#comment-9</p>
<p style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/almaidany.wordpress.com/890/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/almaidany.wordpress.com/890/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almaidany.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almaidany.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almaidany.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almaidany.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almaidany.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almaidany.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almaidany.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almaidany.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almaidany.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almaidany.wordpress.com/890/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almaidany.wordpress.com&blog=1586189&post=890&subd=almaidany&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/25/kondisi-masyarakat-sebelum-diutusnya-nabi-muhammad-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/almaidany-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abu ja'far al-maidany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/gua_hira.jpg?w=261" medium="image">
			<media:title type="html">Gua Hira, tempat turunnya Wahyu Alloh yang pertama.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sucikah Tanah KARBALA?</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/24/memperbaiki-flash-disk-yang-tiba-tiba-mati/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/24/memperbaiki-flash-disk-yang-tiba-tiba-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 16:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=887</guid>
		<description><![CDATA[

بسم الله الرحمن الرحيم


Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Di bawah ini akan kami petikkan tulisan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dari kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, ketika beliau mengomentari hadits berikut:
قَامَ مَنْ عِنْدِي جِبْرِيْلُ قَبْلُ فَحَدَّثَنِيْ أَنَّ الْحُسَيْنَ يُقْتَلُ بِشَطِّ الْفُرَاتِ.
Telah datang malaikat Jibril di sisiku, lalu dia mengabarkan kepadaku bahwa Husein akan dibunuh di Syaththil Furaats [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="snap_preview">
<blockquote>
<p style="text-align:center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;"><a href="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/karbala10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-889" src="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/karbala10.jpg?w=300&h=221" alt="“Hadits-hadits ini[1] tidak menunjukkan kesucian tanah Karbala, keutamaan sujud di atas tanah tersebut dan tidak pula menunjukkan sunnah menjadikan qursh (batu lempengan) dari tanah Karbala untuk sujud di atasnya ketika shalat sebagaimana yang dilakukan kaum Syi’ah pada hari ini. Kalau hal ini termasuk perkara sunnah, maka menjadikan qursh dari tanah Masjidil Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah) paling pantas untuk sujud di atasnya ketika shalat, tetapi hal ini merupakan bid’ah Syi’ah dan sikap ghuluw mereka dalam mengaguungkan ahlul bait dan peninggalan-peninggalan mereka.(Silsilah hadits shohih, Syaikh Al Albani)" width="300" height="221" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini akan kami petikkan tulisan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dari kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, ketika beliau mengomentari hadits berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">قَامَ مَنْ عِنْدِي جِبْرِيْلُ قَبْلُ فَحَدَّثَنِيْ أَنَّ الْحُسَيْنَ يُقْتَلُ بِشَطِّ الْفُرَاتِ.</p>
<p style="text-align:justify;">Telah datang malaikat Jibril di sisiku, lalu dia mengabarkan kepadaku bahwa Husein akan dibunuh di Syaththil Furaats (Karbala). (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya (1/85); dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dengan beberapa syawahid (penguat-penguat hadits tersebut) dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, jilid III, hal. 159-162)</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beliau men-takhrij dan menyebutkan berbagai syawahid-nya secara lengkap, beliau berkata sebagai berikut: “Hadits-hadits ini[1] tidak menunjukkan kesucian tanah Karbala, keutamaan sujud di atas tanah tersebut dan tidak pula menunjukkan sunnah menjadikan qursh (batu lempengan) dari tanah Karbala untuk sujud di atasnya ketika shalat sebagaimana yang dilakukan kaum Syi’ah pada hari ini. Kalau hal ini termasuk perkara sunnah, maka menjadikan qursh dari tanah Masjidil Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah) paling pantas untuk sujud di atasnya ketika shalat, tetapi hal ini merupakan bid’ah Syi’ah dan sikap ghuluw mereka dalam mengaguungkan ahlul bait dan peninggalan-peninggalan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk dari keanehan kaum Syi’ah yang lain ialah pendapat mereka bahwa akal termasuk sumber tasyri’ (yang dijadikan patokan dalam syari’at). Oleh karena itu mereka mengatakan baik dan jelek berdasarkan akal. Bersamaan dengan hal ini (akal sebagai sumber tasyri’), mereka meriwayatkan atsar tentang keutamaan sujud di atas tanah Karbala, padahal atsar tersebut adalah termasuk hadits-hadits yang dapat dibuktikan kebatilannya oleh akal yang sehat secara aksioma.[2]</p>
<p style="text-align:justify;">Aku (Syaikh Al-Albani) mendapatkan risalah (tulisan / karangan) yang ditulis oleh seorang Syi’ah yang biasa dipanggil As-Sayyid Abdur-Ridla Al-Mar’isyi Asy-Syihristaani (selanjutnya disingkat ARMS –pent.) dengan judul As-Sujud ‘ala At-Turbah Al-Husainiyyah pada hal. 15 dia berkata: “Telah diriwayatkan bahwa sujud di atas tanah Karbala paling utama karena kemuliaan dan kesucian tanah tersebut. Serta kesucian orang yang dikubur di tanah tersebut. Dan telah diriwayatkan hadits dari A`imatil ‘Ithrah Ath-Thahirah alaihimus salam[3] bahwa sujud di atas Karbala menerangi bumi yang ketujuh. Dalam riwayat lain: “Dapat menembus ketujuh hijab. Dan dalam riwayat lain: Allah menerima shalat orang yang bersujud di atas tanah Karbala yang Dia tidak menerima shalat orang yang bersujud di selainnya. Dalam riwayat lain bahwa sujud di atas tanah kuburan Husein menerangi bumi.”</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits seperti ini jelas kebatilannya <span id="more-887"></span>menurut kami dan para Imam Ahlul Bait radliyallahu ‘anhum berlepas diri dari hadits-hadits tersebut. Hadits-hadits tersebut tidak memiliki sanad-sanad di sisi mereka, sehingga dimungkinkan untuk dikritik dari segi ilmu hadits dan ushul-ushul ilmu hadits. Hadits-hadits tersebut hanyalah hadits-hadits yang mursal[4] dan mu’dlal[5].</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis risalah tersebut belum puas memenuhi risalahnya dengan nukilan-nukilan ini yang dianggap dari para imam Ahlul Bait. Bahkan dia mengelabui para pembaca bahwasanya nukilan-nukilan tersebut seperti nukilan-nukilan kita Ahlus Sunnah. Dia mengatakan (pada hal. 19): “Hadits-hadits keutamaan tanah Husainiyyah (tanah Karbala) dan kesuciannya tidak terbatas pada hadits-hadits para Imam Ahlul Bait alaihimus salam karena hadits-hadits yang serupa dengan hadits-hadits ini masyhur (terkenal) dan banyak terdapat dalam kitab-kitab induk firqah Islam yang lain dari jalan ulama-ulama dan rawi-rawi mereka. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Suyuthi dalam kitabnya Al-Khasha`ishul Kubra bab Ikhbarun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biqatlil Husein alaihis salam. Dia meriwayatkan dalam kitab tersebut sekitar 20 hadits dari tokoh-tokoh yang terpercaya di kalangan mereka seperti Al-Hakim, Al-Baihaqi, Abu Nu’aim, At-Thabrani, Al-Haitsami dalam Al-Mujma’ (9:191) dan lain-lain dari perawi-perawi mereka yang terkenal.”</p>
<p style="text-align:justify;">Wahai saudarakum muslim, ketahuilah bahwasanya tidak ada pada As-Suyuthi dan tidak pula pada Al-Haitsami satu hadits pun yang menunjukkan keutamaan tanah Al-Huseiniyyah (tanah Karbala) dan kesuciannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap nukilan yang ada pada kitab-kitab tersebut yang sesuai kosa kata-kosa katanya sesungguhnya hanya berupa pengkhabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang terbunuhnya Husein di tanah Karbala. Dan baru saja aku (As-Syaikh Al-Albani) paparkan intisari-intisari nukilan tersebut. Apakah kalian dapatkan pada kitab-kitab tersebut sebagaimana yang dinyatakan oleh Syi’ah ini (ARMS) pada risalahnya atas As-Suyuthi dan Al-Haitsami?</p>
<p style="text-align:justify;">“Demi Allah, tidak! Tetapi, Syi’ah dalam mendukung kesesatan bid’ahnya menggunakan dalil yang lebih lemah dari sarang laba-laba. Dia (orang Syi’ah ini) terus menerus membuat pengkaburan terhadap para pembaca bahkan sampai berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Sebagaimana perkataannya pada hal. 13:</p>
<p style="text-align:justify;">“Orang pertama yang menjadikan batu lempengan dari tanah untuk sujud di atasnya adalah Nabi kita Muuhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun ketiga hijriah tatkala terjadi peperangan yang luar biasa antara kaum muslimin dan Quraisy pada perang Uhud dan gugur pada peperangan tersebut tokoh yang paling agung dalam Islam yaitu Hamzah bin Abdil Muthalib paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para wanita Islam untuk berniyahah (meratap) atas kematian Hamzah tersebut pada setiap pertemuan. Perkara pemuliaan Hamzah ini berkembang sampai mereka (para shahabat) mengambil tanah kuburannya unntuk meminta berkah dan sujud di atasnya karena Allah Ta’ala dan mereka membuat alat tasbih dari tanah tersebut sebagaimana yang terdapat dalam kitab Al-Ardhu wat Turbatul Husainiyyah. Dan para tabi’in melakukan yang demikian ini. Di antaranya Al-Faqih…”</p>
<p style="text-align:justify;">Kitab tersebut di atas (Al-Ardhu wat Turbatul Husainiyyah) merupakan bagian kitab-kitab Syi’ah. Wahai pembaca yang mulia! Perhatikanlah! Bagaimana dia berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pernyataannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang pertama yang menjadikan batu lempengan untuk sujud di atasnya. Selanjutnya tidaklah dia memaparkan (’atsar) untuk menopang pernyataannya tersebut kecuali kepada kedustaan yang lain, yaitu perintah Rasulullah kepada para wanita untuk meratap kematian Hamzah pada setiap pertemuan, padahal tidak ada kaitan antara perintah niyahah ini –sekalipun shahih- dengan menjadikan batu lempengan untuk sujud di atasnya sebagaimana yang tampak. Perintah niyahah ini tidak benar (tidak sah) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana hal ini terjadi, padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membai’at para wanita agar mereka tidak berniyahah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan selain keduanya dari Umu ‘Athiyyah (lihat kitab kami Ahkamul Jana’iz hal. 28). Dan tampak bagiku bahwasanya dia (penulis) menyertakan kedustaan yang ketiga kepada kedustaan di atas, yaitu ucapannya tentang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p style="text-align:justify;">“… perkara tentang pemuliaan Hamzah ini berkembang sampai mereka (para shahabat) mengambil tanah kuburannya untuk meminta berkah dan sujud di atasnya karena Allah Ta’ala…” Hal ini adalah kedustaan atas para shahabat radliallahu ‘anhum. Dan mustahil para shahabat mendekati pemujian berhala seperti ini. Cukup bagi pembaca melihat bukti kedustaan orang Syi’ah ini atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya bahwasanya dia tidak bisa menisbatkan (menyandarkan) yang demikian ini kepada sumber yang ma’ruf dari sumber-sumber kaum muslimin kecuali kitab Al-Ardhu wat Turbatul Husainiyyah yang termasuk kitab-kitab orang-orang akhir di kalangan mereka dan tidak diketahui pengarangnya. Orang Syi’ah ini (ARMS) tidak berani menyebutkan nama pengarang kitab tersebut dan menuntupi identitasnya agar tidak terbuka kedoknya (kejelekan dan kesalahannya) dengan penyebutan nama pengarang tersebut yang hal ini sebagai sumber kedustaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis (ARMS) belum puas menyuguhkan kedustaannya terhadap as-salaful awwal bahkan berlanjut kedustaan terhadap orang setelah mereka. Perhatikanlah lanjutan ucapannya di atas:</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan di antara mereka adalah Al-Faqih Al-Kabir Masruq bin Al-Ajda’ meninggal tahun 62 Hijriah, seorang tabi’i besar yang tergolong rijal shihah yang enam. Dia (Masruq) mengambil batu lempengan dari tanah Madinah Munawwarah dalam safar-safarnya untuk sujud di atasnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hafidh Imamus Sunnah Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya Al-Mushannaf jilid 2 bab Man Kaana Yahmilu fis-Safiinah Syaian Yasjudu ‘Alaihi. Dia mengeluarkan (meriwayatkan)nya dengan dua sanad, bahwasanya Masruq apabila safar dalam perahu ia membawa batu lempengan dari Madinah Munawwarah untuk sujud di atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku (Syaikh Al-Albani) katakan: “Dalam ucapan ini banyak kedustaan:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Ucapannya: “Dia (Masruq) mengambil batu lempengan dalam safar-safarnya.” Ucapan safar ini mencakup safar di daratan dan ini menyelisihi atsar yang dia sebutkan (yaitu di laut –pent.)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Penetapan penulis bahwa Masruq melakukan demikian memberikan (makna) bahwa atsar tersebut tsabit dari Masruq padahal tidak demikian, bahkan dhaif munqathi’[6] sebagaimana akan datang penjelasannya.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Ucapannya: “… dengan dua sanad” adalah dusta. Sesungguhnya sanadnya hanya satu yang bersumber dari Ali Muhammad bin Siriin. Terjadi perselisihan tentang Ali Muhammad bin Siriin dalam atsar ini. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Al-Mushannaf (2/43/2) dari jalan Yazid bin Ibrahim dari Ibnu Siriin bahwa dia (Yazid) berkata: “Aku khabarkan bahwa Masruq membawa batu lempengan dalam perahu untuk sujud di atasnya.” Dan dari jalan Ibnu ‘Aun dari Muhammad bahwasanya Masruq apabila safar dalam perahu dia membawa batu lempengan untuk sujud di atasnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Anda dapat melihat bahwa atsar yang pertama dari jalan Ibnu Siriin dan yang lain (kedua) dari jalan Muhammad yang dia itu tidak lain adalah Ibnu Siriin juga. Maka sanad ini pada hakikatnya satu sanad. Tetapi Yazid bin Ibrahim berkata darinya (Ibnu Siriin): “Aku khabarkan”. Dia (Yazid) menetapkan bahwa Ibnu Siriin melakukan demikian dengan perantaraan Masruq sedangkan Ibnu ‘Aun tidak menetapkan demikian. Masing-masing dari keduanya (Yazid bin Ibrahim dan Ibnu ‘Aun) tsiqah/terpercaya dalam periwayatan (’atsar), hanya saja Yazid bin Ibrahim membawa tambahan ini (”Aku khabarkan”) dalam sanadnya. Maka tambahan tersebut diterima sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Musthalah (Ilmu Musthalah Hadits) bahwa: “Orang yang hafal sebagai hujjah atas orang yang belum hafal.” Dan atas dasar ini maka penyandaran perbuatan ini kepada Masruq adalah dhaif (lemah) yang tidak tegak hujjah dengannya karena sumber atsar tersebut adalah satu rawi yang tidak disebut namanya (majhul). Maka tidak boleh penetapan dengan menisbatkan perbuatan tersebut pada Masruq radliallahu ‘anhu wa rahimahu sebagaimana yang dilakukan oleh orang Syi’ah ini (ARMS).</p>
<p style="text-align:justify;">4. Orang Syi’ah ini (penulis/ARMS) telah memasukkan pada atsar ini tambahan yang tidak ada asalnya pada Al-Mushannaf yaitu ucapannya: “Dari tanah Madinah Munawwarah.” Tidak ada penyebutan tambahan ini pada masing-masing riwayat tersebut sebagaimana yang anda lihat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahukah anda kenapa orang Syi’ah ini mengadakan tambahan dalam atsar ini. Telah jelas baginya bahwa pada atsar tersebut tidak ada dalil secara mutlak atas pengambilan batu lempengan dari bumi Al-Mubaarakah (Madinah Munawarah) untuk sujud di atasnya apabila dia membiarkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Oleh karena itu ia sertakan tambahan ini pada atsar tersebut untuk mengelabui para pembaca bahwa Masruq rahimahullah menjadikan batu lempengan dari Madinah untuk sujud di atasnya dalam rangka minta barakah. Apabila hal ini tsabit ia sertakan pada atsar ini kebolehan menjadikan lempengan dari tanah Karbala dengan seluruh penyertaan sebagai bumi yang disucikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila anda mengetahui bahwa yang dijadikan qiyas atasnya adalah batil dan tidak ada asalnya, melainkan hanya berupa rekaan (perbuatan bohong) orang Syi’ah tersebut (ARMS) maka anda mengetahui bahwa mengqiaskan kepadanya juga batil. Sebagaimana yang dikatakan dalam pepatah: “Tidak akan tegak (lurus) suatu bayangan sedangkan tongkat itu bengkok.”</p>
<p style="text-align:justify;">Wahai pembaca yang mulia, perhatikanlah keberanian Syi’ah yang luar biasa atas pendustaan ini sampai mereka berdusta atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendukung kesesatan yang ada pada mereka. Perhatikan yang demikian ini niscaya akan jelas bagi anda kebenaran orang yang mensifati mereka dari kalangan aimmah dengan ucapan: “Sedusta-dusta kelompok adalah Rafidlah (Syi’ah Rafidlah).”</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk kedustaan-kedustaan adalah ucapannya (halaman 9): “Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (!) (1/331) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci shalat di atas sesuatu yang bukan tanah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan ini adalah dusta dari dua sisi:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Tidak terdapat dalam shahih Bukhari lafadz ini, tidak dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari kalangan salaf.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Atsar tersebut disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Syarhihi ala Al-Bukhari (1/388-cetakan al-Bahiyyah) dari ‘Urwah dia berkata: “Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari ‘Urwah dan Az-Zubair bahwasanya dia membenci shalat atas sesuatu yang bukan selain tanah.”</p>
<p style="text-align:justify;">(Diterjemahkan oleh al Faqir ila maghfiratil Jaliil Abu Sa’id Hamzah bin Halil dari Kitab Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah/Al-Albani jilid 3 hal. 162-166)</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: Majalah SALAFY edisi VIII/Rabi’ul Awwal/1417/1996</p>
<p style="text-align:justify;">[1] Yakni hadits di atas dan syawahidnya. Bagi yang ingin mengetahui syawahid hadits ini, silakan baca kitab beliau tersebut di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">[2] Tanpa memerlukan bukti seperti pernyataan: api itu panas.</p>
<p style="text-align:justify;">[3] Para Imam Ahlul Bait yang suci menurut mereka (Syi’ah).</p>
<p style="text-align:justify;">[4] Mursal: hadits yang diriwayat oleh tabi’i dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebut shahabat.</p>
<p style="text-align:justify;">[5] Mu’dlal: Hadits yang gugur pada sanadnya dua rawi atau lebih secara berturut-turut.</p>
<p style="text-align:justify;">[6] Munqathi’: Hadits yang gugur pada sanadnya seorang rawi.</p>
<p style="text-align:justify;">URL Sumber:<br />
<a href="http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=10">http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=10</a>
</p>
<p style="text-align:justify;">Kutipan dari: <a href="http://aswj.wordpress.com/2007/05/05/sucikah-tanah-karbala/">http://aswj.wordpress.com/2007/05/05/sucikah-tanah-karbala/</a> </p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/almaidany.wordpress.com/887/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/almaidany.wordpress.com/887/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almaidany.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almaidany.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almaidany.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almaidany.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almaidany.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almaidany.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almaidany.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almaidany.wordpress.com/887/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almaidany.wordpress.com/887/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almaidany.wordpress.com/887/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almaidany.wordpress.com&blog=1586189&post=887&subd=almaidany&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/24/memperbaiki-flash-disk-yang-tiba-tiba-mati/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/almaidany-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abu ja'far al-maidany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/karbala10.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">“Hadits-hadits ini[1] tidak menunjukkan kesucian tanah Karbala, keutamaan sujud di atas tanah tersebut dan tidak pula menunjukkan sunnah menjadikan qursh (batu lempengan) dari tanah Karbala untuk sujud di atasnya ketika shalat sebagaimana yang dilakukan kaum Syi’ah pada hari ini. Kalau hal ini termasuk perkara sunnah, maka menjadikan qursh dari tanah Masjidil Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah) paling pantas untuk sujud di atasnya ketika shalat, tetapi hal ini merupakan bid’ah Syi’ah dan sikap ghuluw mereka dalam mengaguungkan ahlul bait dan peninggalan-peninggalan mereka.(Silsilah hadits shohih, Syaikh Al Albani)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ucapan Asy Syaikh Al-Albani Rahimahulloh tentang Agama Ahmadiyah</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/24/ucapan-asy-syaikh-al-albani-rahimahulloh-tentang-agama-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/24/ucapan-asy-syaikh-al-albani-rahimahulloh-tentang-agama-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 12:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[
بسم الله الرحمن الرحيم


baca lengkap di Heboh Nabi Palsu 
Oleh: Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (klik untuk melihat biografi Asy Syaikh Al-Albani)
Di dalam banyak hadits beliau, Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan sebagai nash dan peringatan bagi ummatnya bahwa sungguh akan ada setelah beliau para dajjal (pendusta). Beliau bersabda dalam sebagian hadits beliau,
“Mereka semua mengaku nabi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">بسم الله الرحمن الرحيم</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;"><a href="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/mirza3.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-885" src="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/mirza3.gif?w=326&h=411" alt="" width="326" height="411" /></a></p>
<p style="text-align:center;">baca lengkap di <a href="http://almaidany.wordpress.com/2008/06/15/837/" target="_blank">Heboh Nabi Palsu</a> </p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/04/syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani/"><em><span style="color:#265e15;">Oleh: Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani</span></em></a> (klik untuk melihat biografi Asy Syaikh Al-Albani)</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam banyak hadits beliau, Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan sebagai nash dan peringatan bagi ummatnya bahwa sungguh akan ada setelah beliau para dajjal (pendusta). Beliau bersabda dalam sebagian hadits beliau,</p>
<p style="text-align:justify;">“Mereka semua mengaku nabi. Dan aku adalah nabi terakhir, tidak ada nabi setelahku” (HR. Muslim dan yang selain beliau, lihat Al Ahadits Ash Shahihah 1683)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan di antara dajjal ini adalah Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani <a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/04/25/fatwa-ulama-zaman-tentang-kafirnya-orang-mengaku-nabi/" target="_blank"><span style="color:#265e15;">yang mengaku nabi</span></a>. Dia memiliki pengikut yang banyak di India, Jerman, Inggris, dan Amerika. Mereka memiliki banyak masjid di negeri itu. Mereka pun menyesatkan kaum muslimin lewat masjid-masjid mereka. Di Suriah pun ada salah satu anggota mereka. Allah pun menumbangkan dan mengusir mereka. <a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/05/agama-baru-ahmadiyah/" target="_blank"><span style="color:#265e15;">Mereka memiliki bermacam-macam pemahaman</span></a> selain akidah mereka bahwa kenabian tetap ada setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.<span id="more-884"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pendahulu mereka dalam masalah ini adalah Ibnu Araby Ash Shufi. Orang-orang Ahmadiyah memiliki sebuah risalah di mana mereka mengumpulkan ucapan-ucapan Ibnu Arabi yang mendukung i’tiqad mereka sebagaimana yang telah kita sebutkan. Para ulama seolah-olah tak mampu membantahnya karena yang mengucapkannya adalah Ibnu Araby (seorang yang dianggap sebagai wali Allah oleh orang-orang sufi-pent)! Padahal para ulama tersebut dengan pasti telah mengkafirkan Ahmadiyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini bukanlah tempatnya untuk menyebutkan akidah-akidah mereka. Tidaklah diragukan lagi bahwa mereka inilah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang shahih.</p>
<p style="text-align:justify;">“Akan ada di akhir zaman, para dajjal pendusta. Mereka mendatangkan kepada kalian hadits-hadits yang belum pernah kalian dengar, begitu juga bapak-bapak kalian. Hati-hatilah kalian terhadap mereka. Jangan sampai mereka menyesatkan dan memberikan fitnah kepada kalian.” (Diriwayatkan oleh penulis [Abu Ja'far Ath Thahawy –pent] dalam Misykatul Atsar [4/10] dan Imam Muslim [9/1])</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang merupakan ciri-ciri yang nyata dari mereka adalah bahwasanya ketika memulai pembicaraan dalam dakwah mereka, mereka mulai dengan menetapkan kematian Isa alaihissalam sebelum segala sesuatunya. Jika hal ini berhasil mereka dakwahkan –menurut persangkaan mereka- mereka akan berpindah ke marhalah selanjutnya yakni menyebutkan hadits-hadits yang warid tentang turunnya isa alaihis shalatu wassalam. Mereka menampakkan keimanan mereka dalam hal ini, lalu segera beralih kepada apa yang mereka takwilkan. Setelah mereka menetapkan –dengan apa yang mereka kira- wafatnya Isa, mereka memaksudkan yang akan turun nanti adalah yang semisal Isa, yaitu <a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/05/perbedaan-antara-muslimin-dengan-ahmadiyah/"><span style="color:#265e15;">Ghulam Ahmad Al Qadiyani</span></a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka memiliki banyak takwil jelek semacam ini, dan sungguh banyak sekali! Dan akan datang insya Allah isyarat tentang sebagian akidah mereka yang sesat.</p>
<p style="text-align:justify;">(pent: beliau melanjutkan dalam pembahasan berikutnya…)</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk kesesatan Al Qadiyani ini adalah pengingkaran mereka terhadap jin sebagai makhluk di luar jenis manusia. Mereka mentakwil semua ayat dan hadits yang menjelaskan kebedaan jin dan perbedaan penciptaan jin dan manusia dengan pemahaman mereka. (Mereka menganggap) bahwa jin itu adalah manusia itu sendiri, atau sekelompok manusia. Bahkan menurut mereka, Iblis itu sendiri adalah manusia yang jahat! Betapa sesatnya mereka!</p>
<p style="text-align:justify;">(Diterjemahkan dari Akidah Thahawiyah,Syarh dan Ta’liq Asy Syaikh Al Albani, halaman 21-23, terbitan Maktabah Al Maarif untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com)</p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong>Baca artikel terkait:</strong></h3>
<ul class="authorposts" style="text-align:justify;">
<li>
<h4><a title="Tautan Tetap ke Perbedaan antara Muslimin dengan Ahmadiyah" rel="bookmark" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/02/05/perbedaan-antara-muslimin-dengan-ahmadiyah/"><span style="color:#265e15;">Perbedaan antara Muslimin dengan Ahmadiyah</span></a></h4>
</li>
<li>
<h4><em></em><a title="Tautan Tetap ke Agama Baru Ahmadiyah" rel="bookmark" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/02/05/agama-baru-ahmadiyah/"><span style="color:#265e15;">Agama Baru Ahmadiyah</span></a></h4>
</li>
<li>
<h4><a title="Tautan Tetap ke Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi" rel="bookmark" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/04/25/fatwa-ulama-zaman-tentang-kafirnya-orang-mengaku-nabi/"><span style="color:#265e15;">Fatwa Ulama Zaman tentang Kafirnya Orang Mengaku Nabi</span></a></h4>
</li>
<li>
<h4><a title="Apakah Memerangi Kemungkaran Hak Pemerintah Saja?" rel="bookmark" href="http://almaidany.wordpress.com/2008/02/05/menyikapi-aksi-main-hakim-sendiri-apakah-memerangi-kemungkaran-hak-pemerintah-saja/"><span style="color:#265e15;">Menyikapi Aksi Main Hakim Sendiri: Apakah Memerangi Kemungkaran Hak Pemerintah Saja?</span></a></h4>
</li>
</ul>
<h4 style="text-align:justify;"> Kutipan dari: <a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/22/ucapan-asy-syaikh-al-albani-tentang-ahmadiyah/">http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/22/ucapan-asy-syaikh-al-albani-tentang-ahmadiyah/</a></h4>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/almaidany.wordpress.com/884/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/almaidany.wordpress.com/884/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almaidany.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almaidany.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almaidany.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almaidany.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almaidany.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almaidany.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almaidany.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almaidany.wordpress.com/884/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almaidany.wordpress.com/884/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almaidany.wordpress.com/884/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almaidany.wordpress.com&blog=1586189&post=884&subd=almaidany&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/24/ucapan-asy-syaikh-al-albani-rahimahulloh-tentang-agama-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/almaidany-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abu ja'far al-maidany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/mirza3.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dilarang Bergaul dan Berkumpul dengan Jamaah Tabligh!</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/21/dilarang-bergaul-dan-berkumpul-dengan-jamaah-tabligh/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/21/dilarang-bergaul-dan-berkumpul-dengan-jamaah-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 10:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[
بسم الله الرحمن الرحيم


Pertanyaan: 
Dahulu, sebelum kenal paham salaf, kita juga anti kepada bid’ah yang ada. Karena itu, kami juga memisahkan diri dari keumuman masyarakat dengan membangun sebuah masjid kecil diatas sebuah tanah yang diwakafkan seorang ikhwan. Maka kami mendirikan shalat lima waktu dan jumat menurut sunnah yang kami ketahui. Kini banyak ikhwan2 yang pindah dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">بسم الله الرحمن الرحيم</span></span></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Georgia;"><img src="http://prayudi.files.wordpress.com/2007/07/605px-tajmahalbyamalmongia.jpg" alt="" /></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Georgia;">Pertanyaan:</span></strong><span style="font-family:Georgia;"> </span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">Dahulu, sebelum kenal paham salaf, kita juga anti kepada bid’ah yang ada. Karena itu, kami juga memisahkan diri dari keumuman masyarakat dengan membangun sebuah masjid kecil diatas sebuah tanah yang diwakafkan seorang ikhwan. </span></span><span><span style="font-family:Georgia;"><span>Maka kami mendirikan shalat </span></span><span style="font-family:Georgia;"><span>lima</span></span><span style="font-family:Georgia;"><span> waktu dan jumat menurut sunnah yang kami ketahui. Kini banyak ikhwan2 yang pindah dari tempat kami ke tempat lain yang jauh. </span></span><span style="font-family:Georgia;"><span>Ada</span></span><span style="font-family:Georgia;"><span> karena pekerjaan, futur, dan termakan fitnah <span style="color:#008000;"><strong>sururi</strong></span>. Hingga yang shalat </span></span><span style="font-family:Georgia;"><span>lima</span></span><span style="font-family:Georgia;"><span> waktu dan jumat hanya sekitar </span></span><span style="font-family:Georgia;"><span>lima</span></span><span style="font-family:Georgia;"><span> orang dewasa dan beberapa anak-anak.</span></span></span><span><span><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></span></p>
<p align="justify"><span><span><span style="font-family:Georgia;">Ada</span></span><span><span style="font-family:Georgia;"> seorang dai menyuruh kami untuk meninggalkan mesjid itu dan bergabung dengan masjid awam terdekat sekitar 300 meter dari masjid kami dengan alasan agar mereka mengenal dakwah kami. Dan selama ini mereka memang tidak suka kepada kami dan masjid orang awam itu kadang menjadi <strong><span style="color:#ff0000;font-family:Georgia;">markas tabligh ketika khuruj</span></strong>.<span id="more-878"></span></span></span></span></p>
<p align="justify"><span><span><span style="font-family:Georgia;">Di negeri kami biasa terjadi masjid berdekatan. Kami masih berharap akan lahirnya generasi salafy untuk menghidupkan kembali masjid ini. Yang mewakafkan masjid bersedia membeli kembali tanah yang dia wakafkan jika memang boleh dan masjid harus diruntuhkan. Yang ingin kami tanyakan:<br />
1. Bagaimana nasihat sang dai ini?<br />
2. Apakah kami tetap mendirikan sholat </span></span><span><span style="font-family:Georgia;">lima</span></span><span><span style="font-family:Georgia;"> waktu dan jumat di masjid kami?<br />
3. Atau hanya sholat </span></span><span><span style="font-family:Georgia;">lima</span></span><span><span style="font-family:Georgia;"> waktu di masjid kami dan jumat dengan masyarakat umum?<br />
4. Bolehkah yang mewakafkan membeli lagi tanah itu kembali?<br />
5. Berikan kami nasihat dan bimbingan dalam masalah ini!</span></span><span><span style="font-family:Georgia;"> </span></span></span>
</p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"><span><span><strong><span style="font-family:Georgia;">Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi</span></strong></span><span><span style="font-family:Georgia;"> -Semoga Allah senantiasa menjaganya- <strong>menjawab</strong>: Segala puji hanya milik Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabatnya.</span></span></span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">1. Pertama-tama: Menurut pandanganku, tinggallah kalian di Masjid kalian, itu lebih baik bagi kalian daripada kalian <strong><span style="color:#ff0000;font-family:Georgia;">kumpul-kumpul bersama Jamaah Tabligh.</span></strong> Kedua: Saya beritahu kalian bahwa <strong><span style="color:#ff0000;font-family:Georgia;">Jamaah Tabligh adalah khurafiyyun </span></strong>(penganut khurafat), mereka memiliki keyakinan-keyakinan kepada oran-orang mati dari pengikut tarikat-tarikat sufiyah Diubandiyah. Mereka berjalan di atas empat macam tarikat sufiyah: Jusytiyah, Sahrawardiyah, Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. Dan mereka memotong dzikir <em><span style="font-family:Georgia;">Laa Ilaahi Illallaah</span></em>, menjadi: <em><span style="font-family:Georgia;">Laa Ilaaha</span></em>, dan mengulang-ulangnya 200 atau 300 kali, kemudian mereka membaca <em><span style="font-family:Georgia;">Illallaah</span></em> 200 atau 300 kali.</span></span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">Dan para ulama Ahlussunnah mengatakan: barangsiapa yang memisah kalimat <em><span style="font-family:Georgia;">nafi</span></em> (penafian: yaitu<em><span style="font-family:Georgia;"> Laa Ilaaha</span></em>) dari kalimat <em><span style="font-family:Georgia;">Itsbat</span></em> (Penetapan: yaitu <em><span style="font-family:Georgia;">Illallaah</span></em>), dia telah kafir. </span></span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">Dan mereka memiliki khurafat-khurafat dan bid’ah-bid’ah yang banyak sekali. Wajib bagi kalian untuk tidak bergaul dengan mereka. Dan apabila kalian sanggup untuk menasihati mereka, nasihatilah mereka. Apabila mereka menerima nasihat kalian (itu yang diharapkan –penerj) dan saya kira mereka tidak akan menerimanya, dan apabila mereka tidak menerima nasihat kalian maka tinggalkanlah mereka dan menjauhlah dari mereka. Dan Allah Ta’aala berfirman, “Berilah peringatan, sesungguhnya kamu (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) adalah pembawa peringatan, dan kamu tidak berkuasa atas mereka”. </span></span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">Hanya saja wajib bagi kalian memperingatkan kaum muslimin dari mereka dan membenci mereka di dalam hati-hati kalian. Hanya kepada Allah kita memohon taufiq.</span></span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">2. Jawaban saya: Iya. Tetaplah kalian di </span></span><span><span style="font-family:Georgia;">sana</span></span><span><span style="font-family:Georgia;">, selamatnya aqidah kalian lebih baik daripada kalian berkumpul-kumpul dengan kaum musyrikin.</span></span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">3. Apabila sang imam bersih dari aqidah-akqdah ini maka tidak mengapa. Adapun kalau aqidahnya tidak bersih darinya, maka yang utama tetaplah kalian seperti sekarang ini.</span></span></p>
<p align="justify"><span><span style="font-family:Georgia;">4. Tidak boleh bagi sang wakif (pemberi wakaf) untuk membeli wakafnya kembali. Karena wakaf apabila ucapan seseorang jelas bahwa itu adalah wakaf, maka barang itu tetap sebagai wakaf sepanjang masih ada langit dan bumi, sebagaimana datang keterangan akan yang demikian ini pada hadits yang shahih. Hanya kepada Allah kami mengharapkan taufiq.</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Georgia;"><br />
<span>—————————-<br />
Ditanyakan dan ditranskrip oleh Al Ustadz Muhammad Cahyo kepada Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi –Semoga Allah senantiasa menjaganya-. Jazakumullahu khairan</span><span style="font-family:Georgia;"> </span></span>
</p>
<p align="justify"> </p>
<p align="right"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-family:Georgia;">Diambil dari <a href="http://www.mimbarislami.or.id/?module=konsultasi&amp;action=detail&amp;tjid=2">http://www.mimbarislami.or.id/?module=konsultasi&amp;action=detail&amp;tjid=2</a></span></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-family:Georgia;">Kutipan dari: <a href="http://antosalafy.wordpress.com/2007/07/03/dilarang-bergaul-dan-berkumpul-dengan-jamaah-tabligh/#comment-3974">http://antosalafy.wordpress.com/2007/07/03/dilarang-bergaul-dan-berkumpul-dengan-jamaah-tabligh/#comment-3974</a></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/almaidany.wordpress.com/878/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/almaidany.wordpress.com/878/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almaidany.wordpress.com/878/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almaidany.wordpress.com/878/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almaidany.wordpress.com/878/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almaidany.wordpress.com/878/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almaidany.wordpress.com/878/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almaidany.wordpress.com/878/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almaidany.wordpress.com/878/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almaidany.wordpress.com/878/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almaidany.wordpress.com/878/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almaidany.wordpress.com/878/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almaidany.wordpress.com&blog=1586189&post=878&subd=almaidany&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/21/dilarang-bergaul-dan-berkumpul-dengan-jamaah-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/almaidany-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abu ja'far al-maidany</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://prayudi.files.wordpress.com/2007/07/605px-tajmahalbyamalmongia.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah Bumi Mengelilingi Matahari?</title>
		<link>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/20/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/</link>
		<comments>http://almaidany.wordpress.com/2008/06/20/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 18:23:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu ja'far al-maidany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almaidany.wordpress.com/?p=875</guid>
		<description><![CDATA[
بسم الله الرحمن الرحيم


Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah
Dhohir dalil-dalil syar’I menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam dipermukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhohir dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">بسم الله الرحمن الرحيم</span></span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><a href="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/dscn8857.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-876" src="http://almaidany.files.wordpress.com/2008/06/dscn8857.jpg?w=292&h=219" alt="" width="292" height="219" /></a></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" align="center"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">Oleh: <a title="Lihat biografi beliau dengan mengklik tautan berikut!" href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/" target="_blank">Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah</a></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">Dhohir dalil-dalil syar’I menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam dipermukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhohir dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk mentakwilkan dari dhahirnya. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">1.Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Nabi Ibrahim akan hujjah-nya terhadap orang-orang yang menentang Rabb, firman-Nya:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">…<span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';">فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ &#8230; ( 258 )  سورة البقرة</span>.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><em>“…sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia (matahari) dari barat…”</em> (QS. Al-Baqoroh: 258).<span id="more-875"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">2.Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrohim:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَآ أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ (78  ) سورة الأنعام</span></span></span></span><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><em>“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata:’Inilah Rabku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:’Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”</em> (QS. Al-An’am: 78).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">Jika Allah menjadikan bumi mengelilingi matahari, niscaya Allah akan berfirman:”Ketika bumi itu hilang darinya (matahari, pent)”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">3.Allah Azza wa Jalla berfirman:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُ … (17) سورة الكهف</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><em>“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari arah gua mereka ke sebelah kanan dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu…”</em> (QS. Al-Kahfi: 17).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">Dalam ayat di atas Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu berasal dari bumi, maka niscaya Allah akan berfirman:”gua mereka condong darinya (matahari)”. Begitu juga bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah (matahari) yang berputar meskipun dilalah-nya sedikit dibandingkan dengan dilalah firman-Nya:”condong dan menjauhi mereka”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">4.Allah Azza wa Jalla berfirman:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (33) سورة الأنبياء</span></span></span></span><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><em>“Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”</em> (QS. Al-Anbiya’: 33).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:”Berputar dalam satu garis edaran alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">5.Allah Azza wa Jalla berfirman:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">…<span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';">يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا…(54) سورة الأعراف</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><em>“Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…”</em> (QS. Al-A’rof: 54).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">6.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ (5) سورة الزمر</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><em>“Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”</em> (QS. Az-Zumar: 5).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;"><span style="color:#0033ff;">Firman-Nya:”Menutupkan malam dan siang” artinya memutarkannya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang di atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berfirman:”Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”. Dan makna firman-Nya:”…matahari dan bulan, semuanya berjalan” menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berputar dengan putaran yang semestinya, karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak berger